
Studi mengenai Perjanjian Lama seringkali menimbulkan pesimisme yang berlebihan di kalangan pelajar pemula. Sikap ini muncul karena adanya anggapan bahwa Perjanjian Lama itu sulit untuk dimengerti. Penghakiman yang tidak adil ini secara tidak langsung telah memberikan stigma negatif bagi Alkitab itu sendiri. Ingatlah bahwa Perjanjian Lama menyumbang tiga perempat bagian firman Tuhan yang kita punyai sekarang. Mengabaikan studi Perjanjian Lama juga memiliki dampak yang sangat serius… kita mengabaikan tiga perempat bagian firman Tuhan!
Mengapa para pelajar pemula begitu pesimis dan ketakutan dengan Perjanjian Lama? Ada dua hal yang melatarbelakangi hal ini. Pertama, karena memang cerita-cerita di dalam Perjanjian Lama memiliki garis pemisah (gap) yang begitu panjang selama ribuan tahun dari segi historisnya. Kisah mengenai Abraham memiliki gap kurang lebih 4000 Tahun dengan jaman kita sekarang. Demikian juga dengan kisah Daud, kisah ini memiliki gap 3000 tahun dengan dunia modern saat ini. Menyelidiki Perjanjian Lama sama seperti menyelidiki sebuah teks kuno ribuan tahun yang lalu (bayangkan ketika dulu di sekolah, anda diharuskan mempelajari sejarah tentang kodex Hammurabi. Betapa sulitnya pelajaran itu! Faktanya, peraturan-peraturan di kitab Imamat hampir mirip dengan kodex Hammurabi yang sudah kita pelajari di SMA). Kita tidak mengerti bagaimana keadaan dunia pada waktu itu dan kebudayaan yang ada. Inilah kesulitan nyata yang kita hadapi. Memasuki dunia Perjanjian Lama tanpa menggunakan alat bantu yang tepat dapat membuat kita tersesat di hutan belantara yang lebat!
Kedua, studi terhadap Perjanjian Lama memang membutuhkan perhatian yang ekstra mengingat banyaknya kitab yang diselidiki (39 kitab) dengan ketebalan kitab yang membuat kita merinding sebelum kita mempelajarinya. Bagi kita yang terbiasa dengan budaya instan yang sedang merusak dunia modern ini, mempelajari Perjanjian Lama mungkin bukanlah sebuah pilihan yang bijak. “Membutuhkan waktu ekstra untuk dapat menguasai ketiga puluh sembilan kitab itu!” Itulah alasan yang sering diberikan pelajar pemula untuk mempelajari Perjanjian Lama. Bahkan saya tidak yakin para pelajar pemula dapat menyebutkan dengan tepat ketiga puluh sembilan kitab PL itu dengan berurutan. Hal ini mengindikasikan adanya keengganan untuk bisa mengerti firman Tuhan yang tertulis di Perjanjian Lama.